Ketika berbicara tentang modernisasi data center, tentunya berbicara tentang bagaimana perusahaan dapat menjadikan infrastruktur lebih kompetitif, lincah, hemat biaya, dan memiliki risiko yang minimal. Seperti halnya tren virtualisasi, modernisasi data center, dan software defined, maka penting untuk memahami pendekatan baru terhadap infrastruktur data center dan arsitektur data yang mendatangkan efisiensi bagi perusahaan.

Hewlett Packard Enterprise menawarkan solusi hyperconverged revolusioner yang dirancang untuk menyederhanakan dan memberikan penghematan besar untuk biaya modal dan operasional. Makalah ini akan menguji infrastruktur data center yang transformasional ini, yaitu HPE dan HPE SimpliVity Data Virtualization Platformnya.

Tantangan pada Era Pasca Virtualisasi Data Center

Data center berada dalam periode transisi. Tren yang dimulai lebih dari satu dekade lalu yaitu tren virtualisasi. Virtualisasi mengubah perangkat fisik menjadi kumpulan sumber daya yang tidak bergantung pada aset fisik yang mereka jalankan. Organisasi IT telah menyadari bahwa dengan memisahkan aplikasi dari perangkat keras, mobilitas beban kerja dan pemanfaatan yang lebih tinggi dari sumber daya server fisik bersama menjadi mungkin. Dengan lebih dari 70% dari sistem produksi virtualisasi, organisasi IT masa kini berfokus pada peningkatan pemanfaatan dengan memperbanyak mesin virtual.
Tidak disadari, bahwa manfaat sebenarnya dari server virtualisasi hilang ketika data center berisi server yang digunakan selama ini tidak di virtualkan. Mobilitas dari server virtual menjadi terbatas ketika datastore dan management yang melekat pada storage fisik yang terbatas pula dan bergantung pada monolitik storage yang umum seperti LUN. Menjalankan virtualisasi di segala aspek IT dengan tujuan mencapai auto management dan meningkatkan service delivery menggunakan software adalah langkah untuk menuju software defined data center.

Sayang nya Infrastructure yang diturunkan sekarang tidak menyediakan layanan virtualisasi semacam ini. Hasilnya adalah environment yang rumit dan membutuhkan biaya untuk maintenance, serta penambahan perangkat hanya memperburuk keadaan.

Seharusnya tidak heran bahwa infrastruktur warisan yang lama menghambat virtualisasi dan kebutuhan data yang modern, apalagi arsitektur warisan tersebut digunakan pada era yang berbeda, era dimana sudah ada server virtualisasi, cloud dan SSDs. Era yang dimana IT sangat terpusat di satu data center dan jika IT berada di tempat yang jauh, mereka dapat mengoperasikannya dan tidak tergantung dari data center utama. Situasi tersebut mengakibatkan kerja yang tidak efisiensi diantaranya banyak perangkat yang harus di maintain, serta harus siaga dalam hal downtime dan standard service level delivery.

Tetapi sementara itu arsitektur data telah sedikit berubah, fungsi para praktisi IT di dalam bisnis telah berubah secara dramatis. IT dan data terproteksi karena IT merupakan inti dari hampir semua bisnis saat ini. Dengan demikian permintaan terhadap IT terus meningkat. Untuk memenuhi permintaan, vendor IT secara tidak langsung di push untuk mengembangkan berbagai teknologi untuk menyelesaikan masalah / tantangan di data center. 10 tahun terakhir telah terlihat berbagai perkembangan special devices seperti WAN Optimization, disk-based backup, SSD storage acceleration devices, dan cloud gateways , masing –masing mempunyai nilai namun secara kolektif menambah tingkat kerumitan.

Beberapa pendekatan baru agar terlepas dari infrasrtuktur tradisional:

  1. Menyederhanakan infrastruktur, service delivery, dan pembagian sumber daya dan beban kerja yang baik
  2. Adanya mobilitas di dalam/antara data center dan cloud.
  3. Meningkatkan kinerja aplikasi dan kelincahan IT.
  4. Meningkatkan kemampuan untuk menskalakan dengan mudah dalam satu situs dan di seluruh situs yang terdistribusi
  5. Memperkenalkan efisiensi yang akan menurunkan biaya namun meningkatkan produktivitas IT